Pasokan daging sapi yang ada di Indonesia memang jarang ditemui masalah. Bahkan, pada Idul Agha 2018, ternyata pasokan daging sapi sudah dipastikan aman. Akan tetapi pernahkan kamu untuk membayangkan jika semua hewan ternak tersebut akan hilang termasuk halnya sapi?
Meski dianggap hal yang sangat mustahil, peneliti VTT ternyata sudah meneliti kemungkinan besar serangga yang akan dijadikan sebagai bahan pengganti dari sapi.
1. Budidaya serangga adalah hal yang biasa di Barat
Di Indonesia, biasanya jangkrik atau ulat memang biasanya digunakan sebagai makanan burung. Berbeda dengan Eropa, mereka menjadikan serangga untuk sebuah bisnis yang menguntungkan. Melihat hal tersebut, VTT juga mengembangkan metode dari Fraksinasi kering yang pastinya akan dilakukan pada jangkrik dan juga larva kumbang.
Dengan metode tersebut, VTT juga bisa menghasilkan fraksi serangga dengan beberapa rasa dan dari tingkat kekasaran. Pada saat ini mereka hanya menggunakan sebagai bahan baku bakso dan juga falafel.
2. Menurut VTT, mempunyai rasa yang gurih yang mirip dengan daging sapi
Dari kedua serangga tersebut dipilih karena banyak mengandung nilai gizi yang tinggi, seperti pada protein, besi, B12, Kalsium dan masih banyak lainnya. Sangking baiknya, badan kesehatan dari dunia juga memasukkan jangkrik sebagai sumber dari protein masa depan. Nahh, menurut kamu siapa si diantara kamu yang lebih suka mengkomsumsi jangkrik?
Meski demikian, VTT juga secara tidak langsung menggunakan serangga tersebut yang menjadi bahan utama. Mereka juga hanya mengganti 5-18 persen dari adonan bakso atau falafel dengan jangkrik dan mealworm.
Maka hasil dari praksi ini dengan tingkat kekasaranya yang tinggi mampu menghasilkan rasa daging yang lembut. Sedangkan, daging yang dengan tingkat kekasarannya yang rendah ini menghasilkan rasa daging yang lebih kuat. Bukan hanya itu saja, rasanya juga gurih dan mirip dengan daging sapi.
3. Sudah siap untuk mengganti daging sapi dengan jangkrik?
Menurut VTT, ternyata sudah banyak konsumen dan industri dengan makanan yang tertarik pada serangga yang menjadi salah sumber makanan. Meskipun hasil dari VTT sudah diuji, namun kawasan dari Uni Eropa belum memberikan legalitas terhadap penggunaan serangga ini sebagai bahan makanan yang batu.
Faktanya menurut perternak dari jangkrik Little Food asal Belgia, Nikolaas Viaene, untuk memiliki jumlah protein yang mirip dengan sapi, jangkrik juga membutuhkan 25 kali lebih sedikit dibandingkan dengan makanan, 300 klai lebih sedikit dari air, dan pastinya akan mampu untuk menghasilkan 60 kali lebih sedikit dari gas rumah kaca.
Nah, bagaimana menurut kamu, apakah kamu bisa menjadikan serangga sebagai bahan makanan, seperti di Ghana, China, Thailand dan yang lainnya.
Menurut kamu, layak tidak jika makanan ini dijadikan sebagai penambah makanan?










Tidak ada komentar