Memiliki pengalaman tidak menyenangkan atau tidak terlupakan soal pertanyaan kapan? Kata kapan memang biasanya menjadi kata yang cukup buat hidup tidak tenang. Memang pada dasarnya kamu tidak pernah sendirian menghadapi kegalauan dan juga kecemasan karena pertanyaan kapan.
Kapan nikah?
Saya seorang wanita yang baru saja menyelesaikan pendidikan strata 1. Usia saya yang belum mencapai seperempat abad. Namun pertanyaan jebakan tersebut rasanya sudah terlalu familiar di telinga saya. Saya juga belum menikmati dunia kerja, belum merasakan namanya gaji pertama, belum juga merasakan namanya keliling Indonesia menikmati masa muda. Namun harus merasakan tekanan tentang rencana pernikahan dari omongan tetangga.
Tahu tidak tentang adat kawin lari dari suku Sasak Lombok?
Saya yang hidup di lingkungan sebuah desa pelosok bagian selatan Lombok Tengah. Jika kamu hidup di lingkungan seperti ini maka bersiaplah menerima konsekuensinya dari orang lain.
Penduduk desa yang berasal dari Sasak memang masih menganut tradisi kawin lari atay menarik sebelum melakukan pernikahan yang resmi baik secara hukum dan juga agama. Suku Sasak, mencuri seorang gadis agar dinikahi dianggap ksatria jika dibandingkan meminta langsung pada orangtuanya. Tapi jangan salah paham dulu. Kawin lari di sini bukan berarti hal yang negatif. Selain dilakukan pada dasar suka sama suka, pasangan juga tidak melakukan hal yang negatif sebelum akad nikah dilakukan.
Tradisi dari kawin lari yang masig tetap dilaksanakan dan dijaga pada adat ini membuat sebagian besar masyarakat tentu merasa bangga dan sebagian juga was-was atau tertekan terutama pada remaja wanita yang tidak mau menikah muda.
Dilingkungan saja, jika menikah muda merupakan sesuatu yang lazim. Sangat jarang orang yang bertahan untuk tidak menikah sampai umur mereka beranjak dewasa. Terutama jika pada gadis remaja yang berusia 20 ke atas. Maka sudah sepantasnya menikah atau memiliki anak.
Adat pernikahan Sasak yang mempunyai dua sisi yang berbeda. Bisa menjadi salah satu pernikahan yang mudah dan sekaligus rumit untuk dilaksanakan. Mudah karena tidak memerlukan izin dari orangtua, untuk melakukan pernikahan sekaligus memilih pasangan.
Cara perbikahan tanpa izin dari orang tua inilah yang mnejadi penyebab banyak remaja yang memilih menikah dibandingkan melanjutkan sekolah. Orang tua juga tidak banyak andil dalam keputusan anak-anaknya karena tradisi dan karena jauh sebelum mereka akan melakukan hal yang sama. Hal yang sangat disayangkan adalah kenyataan mereka yang harus menghabiskan banyak uang untuk melaksanakan pernikahan, tapi beralasan tidak memiliki uang untuk menyekolahkan anaknya.
Siapapun kamu dan berapapun usia kamu bisa memilih jalan hidupmu. Fakta inilah yang menjadi hal yang sangat ironis karena banyak sekali remaja yang putus sekolah karena memutuskan menikah muda.
Saya merupakan salah satu wanita yang hidup dilingkungan yang seperti itu. Tingkat dari pendidikan masyarakat yang rendah memang menjunjung tinggi tradisi dan juga adat adalah kondisi akrab yang ada disekitar saya. Saya bukan tidak menyukai adat istiadat daerah saya.
Hal yang paling disayangkan adalah kenyataan jika mereka yang rela menghabiskan banyak biaya untuk melaksanakan pernikahan. Namun untuk biaya sekolah tidak mampu. Semakin tinggi jumlah pernikahan dibawah umur, semakin banyak perceraian dini.
Saya mencintai adat dan juga tradisi suku saya, dan saya berharap jika tradisini ini tetap terlaksana tanpa melibatkan remaja yang lagi sekolah.









Tidak ada komentar